Rabu, 28 Desember 2011

Kilas Balik FPOK UPI


KILAS BALIK
Dari GIVLO sampai FPOK
(A short history)

Oleh:
Prof. Harsono, Drs.,M.Sc.


1.         Sebelum 1947; sebelum tahun 1947 (sumber lama menyebutkan “dalam tahun 1940-an” di Surabaya didirikan suatu institut untuk latihan jasmani yang disebut GIVLO (Gouvernements Instituut voor Lichaamlijke Oefeningen).
2.        1949—jadi setelah GIVLO ditutup, pendidikan itu pindah ke Bandung dan bernama AILO. Direktur waktu ialah orang Belanda namanya DOBBENGA. Para mahasiswa AILO yang pertama-tama adalah lulusan HBS (Hogere Burger School), antara lain: Mochtar Saleh, Lay Sie Fo, Oen Bing Tiat, Hariri, Amanda Hartman, dll.
3.        Sekedar untuk catatan, para mahasiswa tingkat-2 berikutnya, khususnya yang pernah menjadi dosen di lembaga akademi kita (Bandung) ialah:
*             Tingkat IV; Tjokro Hadiwikromo, Wing Harjono, Ang Hong Twan, Sri Ratno, Obos Sybandi, Sie Swan Po, dll.
*             Tingkat III; Kendro, Irsan, Jop Passelima, Bram Matulessi, Sylvia, Mangombar Siregar, Ong Sik Lok, dll.
*             Tingkat II (LAPD); Abdulkadir (UNJ), Rekanti, Neneng Oto Iskandar Dinata, Kantiwa, Tiking, Awan Idat, dll. (tak ada yang terpilih dosen LAPD/APD.)
*             Tingkat I (LAPD); Djoewartitah (Ny. Harsono), Harsono, Soekojo, Imam Hidayat; lainnya ialah Amalia Leksmanawati, Noerlies Abbas, Jo Eng Hwa, Paloepi, Johni Sedjati, dll.
4.        Namun di AILO juga dibuka kursus Lagree Acte Onderwijs (LAC), yang mungkin bisa disetarakan dengan SGPD (Sekolah Guru Pendidikan Jasmani). Waktu itu belum ada SGPD yang siswa-siswanya ialah para lulusan SMP atau yang setara dengan itu. Tujuan dibukanya LAC oleh Depdikbud ialah untuk memenuhi kebutuhan guru-guru Penjas di SD dan SMP. Kebanyakan lulusanya kemudian masuk kursus B1 Penjas.
Yang perlu dicatat dari AILO ialah:
*             Para siswa dan mahasiswanya bebas dari bayaran sekolah dan semua mendapat studi beurs (bea siswa) dari negara.
*             Lulusan dari LAC menjadi guru penjas di SD,SMP, atau SMA. Tempat hospiteren-nya selain di SMA dan SMP, juga di SD; antara lain di Balonggede, SGB Tegallega, SD Jl. Gereja, dll.
*             Selain wajib hospiteren, para mahasiswa selagi kuliah juga wajib melakukan onderling hospiteren (praktik mengajar antara mahasiswa)
5.        1951—Nama AILO kemudian (1949) berubah menjadi LAPD (Lembaga Akademi Pendidikan Djasmani) yang lokasi gedungnya ialah di jalan van Deventer no. 8 - 12 Bandung. Direkturnya saat itu adalah J.J. Berends (orang Belanda). Lama Pendidikan 3 (tiga) tahun, dan para lulusannya bergelar Sarjana Muda Penjas. Seperti AILO dulu, LAPD tergabung pada Fakultet Kedokteran Universitas Indonesia (UI), yang beralamat di Jl, Salemba 6 Jakarta. Presiden UI waktu itu ialah Prof. Mr. Dr. Soepomo, sedangkan ketua Fakultas Kedokterannya ialah Prof. Dr. Djoened Poesponegoro. Prof. Djoened kemudian diganti oleh Prof. Dr. Slamet Iman Santoso; dan beliau yang biasanya menyampaikan ijazah lulusan APD.
6.        1952—Karena Berends pula ke negeri Belanda, Mochtar Saleh menggantikannya sebagai direktur LAPD. Istrinya (Amanda Saleh) adalah juga dosen APD. Mochtar Saleh menjabat direktur selama beberapa tahun sampai beliau pergi bermukim di Jerman.
7.        1953—Di tahun ini nama LAPD berubah lagi menjadi APD (Akademi Pendidikan Djasmani). Lokasi gedungnya masih tetap di Jl. Van Deventer 8 – 12. Para mahasiswanya adalah para lulusan SMA yang datang dari seluruh pelosok tanah air. Namun perlu dicatat pula bahwa, kalau sampai tahun 1952 semua mahasiswanya ialah “orang-orang sipil”, maka di tahun itu, selain orang-orang sipil, APD juga “dibanjiri” oleh mahasiswa-mahasiswa baru, yaitu bintara-bintara anggota TNI, yang kebanyakan ialah dari AURI (sekitar 40 orang).
Surat bertanding dan surat wasit. Yang perlu dicatat ialah bahwa di zaman LAPD, APD, dan kemudian STO (Sekolah Tinggi Olahraga), para mahasiswa belain harus lulus matakuliah teori dan praktik, juga wajib mengumpulkan sejumlah surat bertanding dan surat wasit. Artinya untuk bisa lulus jadi Sarjana Muda, mereka harus pernah bertanding dalam pertandingan resmi cabang olahraga sepakbola, bola voli, bola basket, softball, hoki, dan bola tangan. Tujuan utamanya jelas agar kelak di masyarakat mereka lebih siap untuk menjadi guru/pelatih yang selain skill, juga pengetahuan perwasitannya baik.
8.        PTPG. Sementara itu di PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru—sekarang UPI) Bandung, pada tahun 1954 dibuka jurusan Pendidikan Djasmani yang kelak (tahun tidak tercatat) digabungkan dengan APD. Dengan demikian di PTPG tak ada lagi jurusan Penjas.
9.        1960—pada tahun 1960 dibukalah FPD (Fakultas Pendidikan Djasmani), yang waktu itu ada di bawah naungan UNPAD (Universitas Padjadjaran) Bandung. Jadi setelah 4-5 tahun tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat sarjananya, para sarjana muda lulusan APD, PTPG, dan B1 Penjas berkesempatan untuk melanjutkan pendidikannya guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Djasmani.
10.      Setelah Direktur Mochtar Saleh meninggalkan Indonesia untuk bermukim di negeri Jerman (Bremen), pimpinan lembaga dijabat oleh OEN BING TIAT. Namun tak lama kemudian pimpinan dialihkan kepada DJOESAR KARTASOEBRATA dari Kantor Pendidikan Djasmani Jawa Barat, namun juga tidak untuk waktu yang lama
11.       1962 (?)—kalau tidak keliru (karena saat itu saya sedang diasramakan di TC Asian Games di Jakarta), pada tahun 1962 (1961) FPD berganti nama menjadi STORA dan kemudian STO (Sekolah Tinggi Olahraga). Dekannya ialah IRSAN, M.A. yang kelak dikenal sebagai pelatih fisik prtama para pemain bulutangkis seperti Rudy Hartono, Christian, Ade Candra, Tjun-Tjun, Minarni, dll. Bertahun-tahun kemudian, setelah Irsan diangkat oleh pemerintah menjadi Kepala Kantor Kesegaran Jasmani di Jakarta, pelatih bulutangkis diserahkan ke Tahir Djide. Dan Drs. Arie Suwardi menggantikan Irsan sebagai Pimpinan STO.
12.      1977—pada tahun 1977, lembaga yang semula berlokasi di Jl.Van Deventer pindah ke gedung baru di Jl. Padasuka (mengenai tahun kepindahan ini masih harus dikonfirmasikan lebih lanjut). Kompleks baru tersebut adalah sumbangan dari Bapak Gubernur saat itu, yaitu SOLICHIN G.P. Nama lembaga kemudian juga berubah, mula-mula FKIK (fakultas Keguruan dan Ilmu Keolahragaan) dan akhirnya FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan). Sejak itu FPOK bernaung di bawah IKIP (sekarang UPI) Bandung.
13.      Human Interest. Di era LAPD dan APD setiap tahun diselenggarakan apa yang dinamakan “Pekan Inter-APD”. Yaitu pekan pertandingan olahraga antar tingkat dalam beragam cabang olahraga. Tujuannya ialah untuk melihat bagaimana perkembangan kemahiran olahraga para mahasiswa. Setiap tingkat punya nama regu sendiri, dan juga pembina/coach yang khusus, yaitu seorang dosen. Jadi setiap dosen bertugas sebagai pelatih. Nama-nama regu antara lain “Kapuk” (angkatan 1953), Gargantua (1954), lalu ada Pesat, Hermina, Satria, Balistik, Serasalmo, Hercules, dll.
14.      Setiap tahun diselenggarakan “Pekan PBSLA”, yaitu pekan pertandingan basket antar SLA se Bandung. Yang uniek ialah, penyelenggaraannya sepenuhnya dilaksanakan oleh para mahasiswa tingkat II. Para mahasiswa penyelenggara bertanggungjawab sampai ke urusan yang sekecil-kecilnya; dari panitia, pendaftaran, ngecet lapangan, papan basket, mengatur jadwal pertandingan untuk selama seminggu, penentuan wasit, mengatur penonton yang selalu membludak, keamanan, ya sampai jaga sepeda dan tarik karcis jaga sepeda (waktu itu masih amal langka sepeda motor, apalagi mobil). Seluruh penyelenggaraan tersebut diawasi dengan ketat oleh setiap dosen matakuliah praktik. Inilah suatu pendidikan dan pemberian pengalaman berorganisasi secara nyata yang bisa amat bermanfaat bagi para mahasiswa sebelum mereka kelak terjun di masyarakat.
15.      Just for the record, urutan pimpinan lembaga sejak tahun 1949 sampai tahun 2009 ialah:
·           DOBBENGA
·           BERENDS             
·           MOCHTAR SALEH         
·           OEN BING TIAT  
·           DJOESAR K.        
·           IRSAN                 
·           ARI SUWARDI    
·           SANTOSO  
·           HARSONO  
·           RUSLI LUTAN     
·           AMUNG MA’MUN           
·           YUDHA M SAPUTRA

Catatan Kilas balik di atas adalah gambaran secara umum mengenai perjalanan lembaga pendidikan guru pendidikan jasmani sejak GIVLO hingga yang sekarang bernama FPOK. Penulis mengakui bahwa di sana-sini masih ada kekurangcermatan dalam tahun, tanggal, atau nama yang tertulis. Hal ini semata-mata disebabkan oleh langkanya (hanya sebuah buku) tulisan riwayat mengenai lembaga tersebut. Karena dirasakan kisah tersebut masih perlu dikonfirmasikan dengan para pelaku sejarah lembaga pendidikan tersebut; yang terus terang saja saya perkirakan sudah teramat langka.





Bandung September 2009
Penyusun,
Harsono
(Mantan Mahasiswa LAPD Angkatan 1952-1953)


Living Clay

I took a piece of living clay
And gently formed it day by day
And molded it with power and art
A young child’s soft and yielding heart

I came again when years were gone
It was a man I looked upon
He still the early impress bore
But I could change him never more
(Prof. Dr. Bookwalter)

Tayang studi luar negeri

“Overkompensasi ialah keadaan dimana kita dapat melakukan kelebihan daripada kompensasi itu sendiri, jadi dimana atlet akan mengalami regenerasi dimana dalam overkompensasi adalah dimana kita akan mengalami kelelahan yang berlebihan.”

Tayang kritikan

Climb every mountain, search high and low
Follow every byway, every path you know
Climb every mountain, ford every stream
Follow every rainbow, ‘till you find your dream

A dream that will need
All the love you can give
Every day of your life
For as long as you life

Climb every mountain, ford every stream
Follow every rainbow, ‘till you find your dream

Build school of tomorrow today
Jangan
Build schools of today today
Apalagi
Build schools of yesterday today

Tayang Bloomington....Final dinner

Final Luncheon—Albany

Finally, to conclude my speech, I like to quote a warning, which was voiced 15 years ago. It says (I quote) “studying abroad can be one of the most fulfilling times of a person’s life. But beware, we must no longer take it for granted that cross-cultural contact, automatically breeds understanding of goodwill.....both visitors and hosts must continually work at developing their sensitives towards each other.”

“(.....tidak dengan sendirinya membiakkan/menyebabkan pengertian dan silaturahim (goodwill).....namun kedua fihak, baik tamu maupun tuan rumah, harus secara kontinu berusaha untuk mengembangkan kepekaannya antara mereka.”)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar